Demokrasi adalah…..

——– Original Message ——–
Subject: [Celana Melorot (Demokrasi?)
Date: Wed, 20 Feb 2008 01:31:40 -0800 (PST)

Celana Melorot
Ini berita dari Amerika Serikat, negara yang dikenal sangat liberal. Kota Alexandria dan Shreveport dua kota di negara bagian Louisiana, AS membuat peraturan baru: melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot di bawah pinggang yang memperlihatkan (maaf) celana dalam mereka.

Peraturan itu, tulis Kantor Berita AFP Prancis 29 Agustus 2007, diterima secara bulat. Larangan ini lahir setelah warga memprotes gaya berpakaian para remaja, yang berjalan dengan celana melorot di bawah pinggang itu. Gaya tersebut, menurut Konselor Kota Alexandria, Louis Marshall, tidak sopan.

Louis Marshall, yang hidup dalam tradisi demokrasi, beruntung. Pelarangan itu sama sekali tidak menuai protes. Tidak ada aktivis yang menyatakan peraturan tersebut melanggar hak asasi manusia, antipluralisme, dan konservatif.

Bayangkan jika di Indonesia, negara yang baru saja menghirup udara demokrasi. Louis Marshall akan dikecam dan dianggap telah membunuh kebebasan individu untuk berkreasi. Keputusan pelarangan tersebut bahkan akan diejek sebagai ‘campur tangan pemerintah terhadap hak pribadi warga negara’.

Ini yang terjadi di Indonesia. Pada Desember 2004, seratus hari pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kegusarannya atas tayangan televisi. Melalui Menko Kesra Alwi Shihab ketika itu, Presiden yang kuat memegang norma agama dan sosial itu meminta media televisi untuk tidak mempertontonkan pusar perempuan. “Itu sangat mengganggu,” kata Presiden saat itu.

Pernyataan SBY itu baru sebatas permintaan, belum menjadi keputusan. Namun, tidak terlalu lama berbagai reaksi dari kalangan aktivis perempuan bermunculan dalam diskusi-diskusi dan tulisan di media massa. Mereka antara lain menyatakan, SBY telah melanggar prinsip demokrasi, terhadap hak asasi, dan kebebasan individu berekspresi.
Mereka menentang keras pernyataan SBY itu. Menurut mereka, apabila negara dibiarkan mengatur hak pribadi warga negara, di antaranya soal pusar tadi, maka demokrasi dan kebebasan individu untuk berkreasi, pun mati. Itu pulalah yang menjadi alasan mereka menentang Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Apabila disahkan, maka RUAPP tersebut akan mengatur tubuh perempuan demi kepentingan politik konservatif.

Alexandria dan Shreveport, dua kota di negara bagian Louisiana, AS, telah memberlakukan keputusan, yang melarang remaja putra dan putri mengenakan celana melorot. Keputusan itu disambut baik warga, yang sejak lahir telah menghirup udara demokrasi. Tidak ada yang protes dan menyebutnya sebagai antikebebasan berekspresi, antipluralis, konservatif, dan pertanda matinya demokrasi.

Demokrasi, sistem yang memiliki berbagai kelemahan, sesungguhnya tidak mati hanya karena pelarangan celana yang melorot dan pelarangan memperlihatkan pusar. Pandangan yang berlebihan terhadap demokrasilah apalagi membenturkannya dengan nilai-nilai di masyarakat, nilai-nilai agama, dan menyebutnya sebagai konservatif yang memungkinkan sistem itu kehilangan esensinya.

Di Alexandria dan Shreveport, remaja-remaja tidak lagi mengenakan celana melorot. Mereka tidak merasa menjadi konservatif apalagi antidemokrasi. Di Indonesia, para remaja bebas membiarkan (maaf) celana dalamnya menyembul. Inilah yang disebut para aktivis sebagai kebebasan berekspresi. Dan, para aktivis itu sangat takut demokrasi mati hanya karena remaja menutup pusarnya.

Berita ini saya dapat dari milis….

Kata Om Wiki demokrasi adalah :

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut

Negara demokrasi membagi kekuasaan politiknya dalam 3 lembaga yang independen ( Eksekutif, Yudikatif, Legislatif ) yang sejajar satu sama lain.

Masih katanya Om Wiki :

keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.

Bagaimana lembaga legislatif di Indonesia??? Apakah wakilnya bertindak dan bekerja sesuai aspirasi masyarakat??? nilai sendiri ya….😀

Kalau melihat berita diatas, dimana banyaknya protes yang keluar setelah SBY berkata bahwa beliau merasa terganggu dengan banyaknya pusar yang diumbar di televisi dan meminta televisi tidak mengumbar pusar-pusar para artis wanita, dianggap sebagai pelanggaran prinsip demokrasi…

Tapi kalau diingat-ingat lagi dulu jamannya Pak harto jarang lho artis di televisi yang bajunya mengumbar pusar…

Tapi gak ada yang protes tuh….

Yahh.. terlepas dari pro dan kontra tentang presiden Ri ke 2 itu.. saya sih sedang melihat ke sisi positif yang ada di jaman Orde Baru…

Haaa… Kayanya berat bener yah postingannya..😛

5 Komentar »

  1. tami Said:

    bahkan sekarang artis2 di Indo bakalan ngebubarin bdan sensor
    lha wong Amerika yg notabenex negara bebas masih pux badan sensor, hmmmmmmmmmmmm

  2. realylife Said:

    berat atau tidaknya postingan ini , saya malah melihat sesuatu yang dalam , penghargaan yang lebih pada perempuan .
    sering – sering menulis yang seperti ini ya mbak

  3. mrsyusuf Said:

    @ tami
    Itulah demokrasi yang ada di Indonesia sekarang.. Dialrang dikit bilangnya tidak sesuai dengan prinsip demokrasi lah, mematikan kreatifitas lah…
    Duuhh.. bingung sayah…🙄

    @Realylife
    InsyaAllah Pak..
    terima kasih atas dukungannyaa…😀

  4. erander Said:

    Saya pernah membaca salah satu opini di media cetak yang menyatakan bahwa kebebasan kita sudah kebablasan. Memang pemahaman soal kebebasan dan demokrasi disetiap benak manusia Indonesia – sepertinya – berbeda-beda. Padahal, yang namanya kebebasan dan demokrasi, bukan berarti seenak-enaknya dewe hehehe .. tapi mesti disertai dengan tanggung-jawab.

    Atas nama kebebasan dan demokrasi, sering kali kita mencederai hak-hak orang lain. Dengann alasan kebebesan dan demokrasi, seakan-akan kita berhak masuk dalam rana pribadi orang lain. Anehnya, ketika ada yang akan masuk dalam rana pribadi kita sendiri, kita teriak dan protes.

    Benar-benar bangsa yang baru belajar dewasa.

  5. mrsyusuf Said:

    @erander
    Setuju pak…
    mungkin salah satu contohnya pilkada daerah yang sering disebut sebagai pesta demokrasi…
    pasti adaaa aja kisruhnya, karena yang kalah tidak bisa berlapang dada menerima kekalahnnya…


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: