
Akhirnya sabtu kemarin nonton juga Film Ayat-Ayat Cinta…
Setelah sebelumnya saya bilang kalau saya tidak berniat nonton karena film adaptasi dari novel itu biasanya tidak memuaskan alias mengecewakan penggemar novelnya…
Tapi setelah melihat keramaian blogosphere yang tiap hari pasti adaaaaa aja yang nulis tanggapan mengenai film ini, saya jadi pengen ikut-ikutan nulis juga
Di tempat saya nonton 3 studio diisi oleh film yang sama yaitu : Ayat-Ayat Cinta… Satu studio lagi diisi oleh film horor yang judulnya kebangkitan pocong kalo gak salah…
Waktu saya nonton, studionya cukup penuh dan penontonnya datang dari semua kalangan, tua, muda, bahkan balita… karena kebetulan di sebelah saya pasangan suami istri yang sedang membawa anaknya yang karena sebab itu saya tidak bisa makan pizza sambil nonton soalnya takut diminta cuma beli satu potong hehehehe….
Saya juga bawa anak sih sebenernya tapi masih di perut
Untuk visualiasi tokoh menurut saya lumayan bagus terutama maria dan aisha, yang kelihatan sedikit maksa itu noura menurut saya, yah tahu sendiri kan Zaskia itu muka Indonesia sekali gak ada unsur timur tengahnya…
Salut buat carissa yang melafalkan surat maryam, untuk ferdi nuril alias fahri saya sudah menebak kalau ada scene talaqqi ferdi kemungkinan besar bakal lipsync hehehe…
Alurnya sangat cepat.. dalam waktu sekitar 30 menit saja fahri sudah ditawari taaruf karena moment fahri sakit tidak ada..
Yang agak aneh itu karakternya Syeikh Utsman.. dalam imajinasi saya Syeikh Utsman itu wajahnya sangat timur tengah dengan jenggot yang lebat, tapi di filmnya lhooooo kok njawi sekali
Waktu scene taaruf saat aisha diminta membuka cadarnya, tiba-tiba masku komentar jail..
” jadi inget naruto yang mau liat mukanya kakashi “, haaahh.. jadi cekikikan dehh….
Reaksi nurul waktu dikenalkan ke aisha.. aneh!!!! Atau kelihatan tidak dewasa, di novelnya kekecewaan nurul saat fahri nikah itu lebih dalam hampir sama kaya maria tapi setelah itu dia bisa menguasai hati, malah aisha bilang nurul gadis yang baik setelah mereka berdua kenalan…
Aisha juga banyak terlihat tidak dewasa, salah satunya saat fahri berencana untuk kerja sambilan karena dia merasa gak nyaman memakai uang aisha, lalu aisha bilang..
” yaah.. aku sih gak masalah tinggal di flat murah, gak pake mobil juga gak papa ” nadanya kok terdenganr sinis menurut saya, tidak terdengar ikhlas untuk menuruti suaminya…
Scene saat fahri dan maria menikah cukup mengharukan bikin saya berkaca-kaca hiks
Begitu juga saat maria meninggal, saya banyak mendengar wanita sesenggukan di sekeliling saya…
Tapiiiii yang enggak banget itu saat dikisahkan fahri, aisha, dan maria tinggal satu rumah….
Iiiihhh… enggak banget dehh, dan karena hal itu ada yang bilang aisha cemburuan.. ya iyalah masa ya iya dong … wanita mana yang tidak berdesir hatinya saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita yang lain meskipun itu istrinya yang lain di depan kedua matanya…
Yaahh.. secara keseluruhan film ini bagus kok karena teman saya yang tidak suka membaca setelah menonton film ini bilang kalau film ini bagus banyak pesan moralnya, kalau untuk saya agak sulit untuk tidak membandingkan alur cerita di film dengan di novel apalagi kalau menemukan hal-hal yang bikin saya sedikit tidak sreg..
Pertama kali saya tahu bocoran mengenai alur cerita film AAC ini, saya langsung berniat untuk tidak menonton filmnya karena banyak ketidak sesuaian dengan novel, tapi setelah membaca berbagai opini di blogosphere mengenai film ini, ada yang suka ada yang tidak suka, kecewa, dan setelah saya membaca blognya hanung tentang behind the scene-nya film ini, saya kok jadi kepingin untuk membuat review tentang film ini… hehehe….
Seperti yang saya bilang di postingan saya yang dulu bahwa yang membuat saya ill-feel sama film ayat-ayat cinta karena produsernya itu lohh…
Dan terbukti setelah saya baca blognya Om hanung, disebutkan bahwa produsernya sempet pesimis kalau film ini bisa mengundang orang untuk menonton dan minta supaya lebih ditonjolkan romantika percintaannya aja seperti AADC atau Kuch-kuch Hota Hai..
Duhhh.. memang sih nominal yang mereka beri untuk modal film ini nolnya bejejer panjang, tapi apa cuma itu yang dipertimbangkan untuk membuat sebuah film???
Padahal sebagian masyarakat indonesia terutama saya kecuali abg mungkin sudah muak dengan film-film horor yang bisanya cuma nakut-nakutin aja, dan dengan munculnya film ini bisa jadi semacam penyegaran di jagat perfilman makanya banyak yang antusias terutama sih dari pembaca novelnya..
Tapi saya juga agak bingung dengan pemikiran om hanung mengenai pembuatan film ini dari awal om hanung ingin merubah image fahri dari yang mendekati sempurna menjadi manusia biasa yang tidak sempurna, padahal menurut saya saat baca novelnya fahri memang tidak sempurna kok, tapi dalam hal apa saya lupa hehehe
Saat membaca novelnya om hanung bilang dia mengantuk sampai pertengahan novel dan mulai bersemangat saat memasuki konflik dimana fahri dipenjara dst.
Kalau menurut saya justru yang membuat saya tertarik membaca novel ini adalah kisah-kisah perjuangan fahri di awal-awal chapter novel dan dengan kisah-kisah dari jaman Nabi saya banyak belajar lagi tentang agama tanpa merasa seperti sedang membaca shirah nabawiyah yag tebal itu…
Dan kalau saya chapter dimana fahri ditangkap karena difitnah, disiksa dst malah gak saya baca
saya langsung lompat ke halaman terakhir dan membaca mundur dari chapter yang terakhir shishishishishishi……
Intinya saya cukup puas kok menonton film ini apalagi setelah membaca perjuangan hanung saat pembuatan film ini dan untuk membuktikan sama Mr.Punjabi kalau film ini bisa meraup banyak penonton saya bela-belain nonton di bioskop dan bukan nonton bajakannya…
Mengenai perbedaan dengan novelnya sudah saya duga sebelumnya karena tidak mungkin memvisualkan semua kejadian yang ada di novel yang tebalnya sampai 200 halaman itu tapi saya juga tidak menduga bahwa perbedaannya akan sangat jauh terutama masalah poligaminya itu saya pikir hanya pemotongan-pemotongan cerita tanpa mengubah alurnya..
Oiya, tempat yang digambarkan sebagai sisi sungai nil itu kok kentara sekali ya kalau itu di india, apa karena saya sudah tahu kalau syutingnya di india atau karena saya keseringan menonton Kabhi Kushi Kabhi Gam